Wednesday, July 9, 2014

Hidup yang bahagia, mengesankan. (2)

Part 2. Gue dan keluarga gue.

         Hai guys. Sorry nih lama baru ngepost lagi, khususnya postingan ini yang merupakan lanjutan dari postingan gue di bulan Januari lalu. Ckckck. Lama banget yaa ternyata sampe 6 bulan. Maklumlah namanya juga mahasiswa planologi, sibuk kuliah. Banget. Nah, pada Part 2 ini gue bakal ngelanjutin cerita gue ke topik yang sedikit lebih pribadi nih, tentang keluarga. Percayalah tujuannya bukan apa-apa kok, gw cuma pengen dari kisah gue ini banyak orang yang mungkin senasib juga dengan gue bisa mendapat inspirasi dan manfaat sebesar-besarnya. Mantap deh, langsung aja yuk kita masuk ke kisahnya. Selamat Membaca!

Cukup tentang nama gue. Gue lahir di Jakarta tanggal 16 April tahun 1994. Bisa dihitung umur gue jalan 20 tahun ini. Gue lahir dari sebuah keluarga keturunan Tionghoa dengan kampung halaman di Sungai Liat, Bangka Belitung. Gue cuman punya seorang kakak perempuan yang beda 8 tahun sama gue. Waktu gue lahir sih semuanya berjalan normal, sempurna, dan kondisi keluarga yang nyaman, berkecukupan. Tapi seiring berjalannya waktu, gue tumbuh dan berkembang dalam keluarga broken home. Ortu gue pisah waktu gue masih berumur 3 tahunan. Tentunya gue belom ngerti apa-apa waktu itu, tapi makin gue besar, akhirnya gue mulai ngerti arti sebuah kata, “perceraian”.

Perceraian mungkin bagi sebagian anak-anak adalah sebuah kata yang mengerikan. Harus berpisahnya kedua orang tua kita, dua orang yang paling kita sayangi di dunia ini. Berat. Memang. Gue tanpa tau kenapa (karena masih kecil juga, nggak ngerti) ikut sama nyokap gue. Sejak saat itulah gue tinggal sama nyokap gue, yang sangat tangguh, sangat gue cintai (next time bisa ada cerita sendiri dalam satu postingan). Tak perlu waktu lama, nyokap gue rupanya jatuh hati pada seorang laki-laki. Dia memiliki latar belakang yang berbeda dengan keluarga gw. Berbeda. Hampir semuanya.Dan gw harus hidup dengan orang yang berbeda dan orang “asing” itu dari usia 4 tahun, sampai sekarang.

Awal mulanya, karena gue masih anak-anak semua terasa menyenangkan saja. Gue sering main bareng sama “papa baru” gue. Gue manggilnya om. Akrab. Yaaa, mungkin karena dulu gue sering dibeliin hadiah, makanan, dll layaknya seorang anak kecil. Makanya gue jadi akrab sama dia. Banyak kegiatan bersama gw lalui sama dia, ya jalan-jalan, ikut ketempat kerjanya, dll. Seperti sewajarnya anak kecil pada umumnya.

Seiring berjalannya waktu, Fardi kecil pun mulai tumbuh dewasa. Awal mulanya yang semua terasa menyenangkan mulai terasa berubah. Perbedaan pendapat dan pemikiran dengan om gue pun mulai terjadi. Terutama khususnya setelah gue memutuskan untuk percaya Yesus dan sepenuhnya menjadi kristen di usia sekitar 13 tahunan. Gue diajak ama cici gue yang udah duluan masuk gereja. Setelah nyoba-nyoba ikut, akhirnya gue baru merasakan iman dan kepercayaan yang sesuai sama hati nurani gue, terlebih karena emang sekolah gue yang dari kecil udah ngajarin agama katolik.

Karena banyaknya perbedaan yang ada, maka perbedaan pemikiran pun semakin sering terjadi. Akhirnya ya gue sering berdebat gitu dan ada lah sedikit ribut-ribut kecil beberapa kali. Walaupun nggak pernah sih sampe nggak betah di rumah atau gimana, tapi pernah sih kayak “males ah ketemu dia.” Atau “gak mau ah liat muka dia”. Beruntung gue punya seorang mama yang luar biasa. Yang mampu menjadi “orang tengah” diantara kita berdua. Selain itu beruntung juga agama gue mengajarkan untuk selalu memaafkan dan jangan pernah mendendam. Kehidupan gue terus berjalan sampai sekarang dan semua baik-baik aja. Ya, baik-baik aja. Gue tetep bisa tumbuh normal, tetep bisa berprestasi, tetep bisa punya banyak temen. Dengan ini gue udah bisa ngebuktiin kalo broken home bukan alasan untuk kita jadi nggak berkarya, bukan alasan untuk kita jadi nggak berprestasi. Buktiin lah sama semua meskipun kita dari keluarga yang broken home, tetapi kehidupan kita nggak broken juga. Bahkan dengan kondisi begini gue jadi bisa tau gimana ngadepin perbedaan pendapat, gimana cara berkomunikasi yang lebih baik, gimana caranya bisa mengalah dan menahan diri, gimana bisa tetep mempertahankan pendapat dengan orang yang lebih tua, dan masih banyak lagi. Intinya menjadi lebih dewasa. Mungkin dewasa lebih cepat dari orang seumurannya. Dewasa dini.

Kalo lo nanya “apa sih rahasianya kok lo bisa melalui semuanya itu?”, jawaban gue akan simpel “Laluilah semua bersama Tuhanmu, serahkan semua masalah kepadaNya, gue yakin kita bakal tetep kuat. Dan satu lagi kita juga harus lebih cuek, jangan terlalu dengerin kalo itu nggak terlalu penting. Sama jangan terlalu banyak berharap, ntar kecewa loh. Hahaha”. Yaaa, gitulah kehidupan keluarga gue. Gue yakin dari semua yang ngebaca pasti ada juga yang bernasib sama dengan gue. Gue cuma mau bilang, kalo gue bisa, pasti lo juga bisa! Jangan patah semangat cuma gara-gara keluarga lo bermasalah. Yakinlah, pasti semua yang Tuhan ijinkan terjadi bisa membuat kita jauh lebih kuat, lebih dewasa, dan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik.


Semua orang, jika bisa memilih pasti tidak akan mau memiliki keluarga seperti gue. Semuanya pasti ingin mempunyai keluarga yang utuh. Lengkap. Harmonis. Gue pun juga. Sebenarnya. Tapi apalah mau dikata? Tuhan sudah mengijinkan terjadi demikian. Dan jalan hidup gue bertemu di titik seperti ini. Kalo udah seperti ini gue hanya bisa bersyukur. Sambil belajar dan mengambil nilai kehidupan dari semua yang gue lalui. Gue yakin semua yang boleh terjadi pasti memiliki maksud dan tujuan yang baik untuk kehidupan gue kedepannya.

Sekian dulu guys yang bisa gue bagiin dalam postingan kali ini, thank you banget bagi semua yang udah ngeluangin waktu untuk baca. Gue harap waktu kalian nggak terbuang dengan sia-sia dengan ngebaca artikel gue dan semoga bisa ada suatu manfaat yang diambil dari semua postingan gue. Part 3 gue pastikan akan launching nggak lama lagi kok guys (karena udah jadi juga, tinggal "Post" aja). So, stay tuned at kisahanakbahagia.blogspot.com yah. Thanks guys.

Salam bahagia, Fard.

Thursday, June 12, 2014

Kecewa? Atau terlalu banyak berharap?

Gaiss.. gue punya satu topik yang hangat dan patut untuk diperbincangkan nih (udah kayak silet yee). Hahaha whatever, jadi gini gue lagi banyak merasakan dan mempelajari tentang pola kekecewaan seseorang. Tentu kalian juga pernah atau bahkan sering merasa kecewa kan? (Jawab sendiri dalem hati yah, pasti pernah lah potong kuku gue kalo nggak pernah). Banyak orang yang terkadang merasa kecewa sama orang lain, mungkin karena harapannya tidak tersampaikan di orang itu, atau mungkin keinginannya yang tidak tercapai dari orang itu. Sebenernya ini perkara mudah guys, kenapa sih sebenernya orang itu kecewa? Menurut gue sih yaa, jawabannya simpel karena dia terlalu banyak berharap sama orang itu.
Sebagai contoh nih dari gue sendiri, gue pernah tentunya kecewa sama orang lain, sering bahkan, kalo nggak mana mungkin gue berani nulis topik beginian. Jadi gini gue pernah berusaha untuk baik banget sama angkatan gue, gue berusaha jadi temen yang baik, gue bantu ngajarin apa yang bisa gue ajarin, gue tolong apa yang bisa gue tolong, pokoknya berusaha the best deh buat angkatan gue. Tapi pada akhirnya gue merasa kecewa sama angkatan gue sendiri. Memang sih pada saat awal gue melakukan itu gue nggak berniat mengharapkan apa-apa dari mereka. Gue berusaha untuk tulus ngelakuin itu semua, tapi sebagai selayaknya manusia pasti ada rasa atau keinginan sedikit saja untuk mendapatkan yang baik juga dari perbuatan baik yang telah dilakukan. Atau ada satu teman gue, sebut saja dia “bunga”. Ha ha ha. Ya, jadi dia juga merasakan sebuah kekecewaan dalam hati sama temen-temen di kelas gue. Terlepas dari dia emang orangnya yang melankolis atau gimana tapi tetep aja intinya dia “berharap” sama orang-orang untuk “menjadi baik” atau menjadi sama seperti yang dia inginkan.

Yap, jadi the point is JANGAN TERLALU BANYAK BERHARAP SAMA ORANG LAIN. Nah itu tuh yang gue caps lock diperatiin. Sebenernya it’s very very simple, kalo nggak mau kecewa ya lakuin aja tuh yang gue caps lock. Terkadang manusia memang suka menyusahkan dirinya sendiri, terlalu banyak hal yang diambil pusing. Sebenernya hidup itu gampang kok, tinggal lakuin apa yang bisa lo lakuin sendiri, jangan terlalu manja-manja ngarepin orang lain bantuin lo, berbelas kasih sama lo, blablabla. Selama lo masih bisa ngerjain itu sendiri yaudah kerjain aja! Trus hal lainnya nih supaya nggak kecewa, lo harus ngelakuin segala sesuatu kepada orang lain tuh dengan TULUS. Emang sih kalian pasti pada bilang, kalo ngomong sih gampang, coba prakteknya! Emang untuk bisa tulus itu sangat sangat tidak mudah. Sifat nature manusia pasti akan selalu mengharapkan sesuatu dari yang telah dia lakukan. Tapi gini deh, gue punya sedikit kiat nih buat yang satu ini. Kalo nolong orang, lo pikir aja gini, berbuat baik itu nggak bakal ada ruginya. At least lo bisa ngelakuin sesuatu yang berguna buat orang lain dan menjadikan diri lo buat berguna bagi sekeliling lo. Anggep aja kalo dengan bantuan lo itu, lo bisa membuat orang lain jadi lebih baik. Pokoknya jangan pernah pikirin lo nya yang bakal gimana, tapi pikirin merekanya. Emang sih pasti bakal berat dan sakit, tapi kalo lo lakuin itu gue yakin hidup lo pasti bakal lebih ringan, lebih happy, lebih enjoy, pokoknya lebih enak lah.
Gue jadi keinget waktu dulu gue SMA. Gue bukan anak yang eksis, gue anak pindahan yang baru masuk ke lingkungan orang-orang elite. Gue dengan keberadaan gue waktu itu mungkin bisa dibilang minder atau bisa juga dibilang nggak, tapi yang pasti gue CUEK waktu itu! Gue cuek akan apa yang dibilang mereka, gue bisa pergi makan sendirian tanpa masalah, gue bisa sendirian ngelakuin apa aja. Mungkin kalian bisa bilang gue ansos atau freak, tapi harus gue akuin gue lebih bahagia waktu itu. Yaa, dibanding sekarang-sekarang ini (sebelum gue nulis artikel ini). Sekarang gue jadi lebih suka kecewa, lebih suka marah, jengkel, beda banget sama dulu. Dulu gue bisa enjoy setiap hari, selalu happy, walaupun sering sendiri. Beda ama sekarang, gue jadi suka bete (kadang-kadang sih), kadang juga kurang happy, ya itu gara-gara gue udah mulai mikirin sekeliling gue. Mikirin perkataan temen-temen gue. Mulai “sok” deket-deketan ama temen sekelas. Eh taunya …… beginilah realita, beginilah manusia.


So guys, kayaknya gue udah sampe di kesimpulan dari tulisan ini nih. Jadi intinya kalo lo mau hidup lo lebih bahagia, mulai deh agak sedikit cuek sama sekeliling lo. Cuek disini dalam arti bukan apatis dan nggak mau mendengarkan masukan atau kritik orang lain, tapi cuek atas omongan orang yang nggak bener, cuek atas fitnah, cuek atas orang yang mungkin ngecewain lo, cuek atas orang yang mungkin nggak perhatian sama lo. Pokoknya gampangnya gini deh, lo Cuma punya 2 tangan, nggak akan mungkin 2 tangan itu nutup semua mulut orang yang ngatain lo. Yang bisa lo lakuin adalah tutup 2 telinga lo sendiri. Itu yang paling bener. Okeee, selesai. Gue harap kalian yang ngebaca ini bisa jadi lebih jarang lagi kecewa, kalo bisa malah nggak usah kecewa-kecewa lagi.. hehehe siiipp deh, thanks yah udah ngebaca. Sampai ketemu di tulisan berikutnya, soon!

Wednesday, February 5, 2014

Hidup yang bahagia, mengesankan.

Selamat siang orang-orang bahagia.

Sabtu siang ini, hari pertama di bulan Februari. Hari liburan imlek (off kerja) terakhir gue (ini saat tulisan ini mulai dibuat, baru bisa jadi hari ini). Gue yang udah nggak sabar untuk nulis postingan ini, bahkan udah dari semalem gue pikirin judul apa yang tepat buat bacaan kedua gue. Akhirnya terciptalah tuh judul diatas, "Hidup yang bahagia, mengesankan." seperti judulnya gue kasih tau dulu yah gambaran isi dari post ini. Dalam post ini gue bakal bercerita tentang siapa sih gue ini, biar jangan dikira ntarnya "Siapa sih nih orang sok ide banget nulis-nulis beginian?" atau "Emang dia siapa sih udah sok-sok 'berceramah' gini?" yaaa atau apalah lainnya. Lagipula kan kalo kata orang tak kenal maka tak sayang, jadi ya lebih baik gw memperkenalkan diri gue dulu yaa. Postingan ini bakal gue bagi jadi 4 part, yang pasti setiap part bakal punya maknanya sendiri. Untuk sekarang gue bakal post part 1 dulu yaa, part 2 sampe 4 nya menyusul segera (biar pada penasaran juga). Okedeeehh, tanpa berlama-lama lagi, capcus yuk ke kisah bahagianya.

Part 1. Gue dan diri gue
Nama gue Fardi, "F-A-R-D-I". Tuh gue eja + pake caps lock, karena percaya atau nggak orang-orang keseringan susah untuk denger dan ngucapin nama gw. Contoh kejadian yang cukup sering terjadi, yang kadang-kadang bikin gue jengkel juga.
"Dengan siapa kak?" 
"Saya Fardi, mbak." 
"Oh, Hardy." 
"Fardi, mbak." "
"Ooohh, iya kak Ferdi."
"Fardi mbak Fardi, pake 'A' mbak."
"Maaf kak, iya-iya kak Fandi."
"!#@%@R&^!"
Dan gw speechless.
Yah begitulah nama pemberian bokap gue. Meskipun terkadang susah diucapkan dan sudah didengar, tapi gue bangga kok dengan nama unik yang sangat jarang ini. Fardi. Tanpa nama panjang. Walaupun sebenernya ada nama "Lustam" dibelakangnya. Fardi Lustam. Tapi karena dari ijazah SD nama itu nggak pernah muncul, maka jadilah sampe sekarang di KTP pun nama gue ya cuma 'Fardi' aja. Kalian bisa panggil gue ‘Far’, ‘Di’, ‘Fard’, dll asalkan wajar. Hehehe

Lanjut setelah nama biasanya tanggal lahir kan. Hahaha. Gue lahir tanggal 16 April 1994 (dicatet yaa, jangan lupa ngasih kado). Lahir di Jakarta, tapi gue seorang keturunan tionghoa. Orang tua gue tionghoa keturunan daerah Bangka (Prov. Babel). Tapi kalo ada orang tanya, “far, lo orang mana?” gue akan jawab “gue orang Indonesia!”. Yaa, gue cinta Indonesia. Kalo kata orang sih namanya “nasionalisme”. Nasionalisme gue (menurut gue) lumayan tinggi. Karena satu yang gue sadar, gue lahir di tanah ini, gue pake airnya setiap hari, gue pake semua hasil tanah ini untuk keperluan sehari-hari gue. Gue hirup udaranya. Gue liat sinar mataharinya setiap hari. Dll. Udah ah tentang Indonesia, ntar panjangnya bisa 1 postingan lagi. Hehehe.
Secara fisik, gue bukan orang yang ganteng (menurut gue). Gue nggak pernah kepedean dan memasuk-masukkan muka gue ke kelompok cowok ganteng. Dan memang hanya 1-2 orang yang bilang gue ganteng (gue juga nggak ngerti gantengnya dari mana). Muka gue juga cukup berjerawat, katanya sih ini karena hormon. Jadi agak susah buat diobatin sampe masa umur gue lewat dan hormon gue stabil baru dia bakal sembuh. Lagian gue juga udah capek berobat sana sini nggak sembuh-sembuh, jadi yaudah deh gue biarin aja sekarang. Sebenernya juga udah tinggal bekasnya aja sih merah-merah. x_x. Yaa, bagi gue ganteng atau nggak, jerawatan kek itu bukan masalah. Yang penting itu PD. Percaya Diri yaa, bukan Persekutuan Doa. Hahaha. Ya! Bagaimanapun bentuk wajah lo, warna kulit lo, tinggi lo, banyaknya lemak lo, yang paling penting lo PD. Yakin aja kalo semua yang udah Tuhan kasih lo adanya kayak gini adalah yang terbaik!
Tinggi gue 175 cm, berat sekarang 79 kg (naik gara-gara liburan, padahal dulu udah 74 kg). Hahaha. Kalo mau digolongin badan gue nggak bagus-bagus amat. Yaa normal lah kayak anak-anak cowok lain, bisa dibilang agak gendut sih. Nggak, nggak berotot. Nggak six-pack. Adanya one-pack nih kalo mau. Hahaha. Kulit gue puji Tuhan agak putihan lah, layaknya orang-orang keturunan Tionghoa. Mata sipit, hidung nggak mancung nggak pesek. Normal. Lahir sempurna. Puji Tuhan!!
Yang penting disini di Part 1 ini nih. Bagi gue, mau dilahirin dalam kondisi apapun nggak ada alasan untuk menghambat kesuksesan dan masa depan gue. Gue harap begitu juga dengan lo semua. Lo semua yang baca tulisan ini gue harap sih bisa bersyukur nerima diri lo apa adanya. Mau gendut kek, pendek kek, pesek kek, item kek, kata orang jelek lah, jerawatan, atau apapun yang lain yang bagi orang negatif. Jangan pernah jadikan itu semua alasan untuk lo nggak bisa meraih kesuksesan lo. Inget, muka itu bisa berubah. Makin lo tua juga lo bakal keriputan, badan lo kurus, loyo, lambat, dll. Tapi 2 hal yang nggak pernah bisa berubah. KARAKTER dan SEMANGAT. Bentuk karakter yang kuat, teguh, baik, yang akan abadi dan tidak akan termakan usia. Nyalakan semangat dalam hidup lo supaya biar berapapun umur lo, bagaimanapun kondisi fisik lo, apapun keadaan yang lo hadapin, lo bisa melewati itu semua karena punya semangat (spirit) yang tak pernah padam.
So, kalo gue aja yang kondisinya kayak gini bisa punya mimpi yang sangat besar beserta keyakinan untuk menggapainya, bisa punya semangat untuk ngejalanin hari demi hari. Apalagi lo semua yang mungkin ganteng-ganteng dan cantik-cantik atau mungkin lo semua yang jelek-jelek sekalipun. Pasti kalian juga bisa! Bentuk karakter dan nyalakan semangatmu, sekarang!!!

Nantikan kelanjutan ceritanya segera. Hidup yang bahagia, mengesankan. (Part 2). Coming Soon! J

Salam bahagia. #fard

Friday, January 31, 2014

Permulaan yang baik di akhir bulan awal tahun 2014

31 Januari 2014.
Imlek malam, saat sudah tuntas seharian berburu amplop merah alias "angpao", Fardi si anak bahagia pun tiba di kamar tercintanya.

Niatan yang sudah lama terurungkanpun coba direalisasikan. Mencari info dengan bantuan Mbah Google memang mudah dan sangat membantu. Akhirnya tanpa perlu belajar banyak pun, gue, Fardi, si anak bahagia (selalu mencoba bahagia) berhasil membuat sebuah blog.

Keinginan yang sudah sangat lama gue idamkan. Meskipun emang nggak pernah terpikir sih untuk bikin blog, tapi kebiasaan gue ngeposting tweet-tweet inspirasi dan motivasi mendorong gue untuk membuat sebuah blog. Biar lebih tertata dan bisa ngepost lebih panjang aja sih. Tapi, satu tujuan gue sebenernya yang udah lama dan selalu gue idam-idamkan adalah bisa menjadi pembawa inspirasi, semangat, dan harapan bagi semua yang baca tweet-tweet gue dan bakal baca postingan-posting gue di blog ini kedepannya. Satu kerinduan banget gue, gue, seorang pemuda biasa dengan keyakinan yang luar biasa ini bisa menjadi pembawa harapan bagi mereka yang mungkin sudah tidak berpengharapan, pemberi semangat bagi mereka yang sudah patah semangat, dan penyaji inspirasi bagi mereka yang hidupnya tidak bertujuan.

Gue berharap kisah-kisah sederhana dari kejadian yang gue temuin di kehidupan sehari-hari bisa menjadi bahan refleksi, motivasi, semangat, pembelajaran, dan bekal untuk menjadikan kita sama-sama menjadi insan yang lebih baik. Memang saat ini gue "belum" menjadi siapa-siapa, tapi sungguh gue pengen berguna buat bangsa gue mulai dari hal kecil kayak gini. Hal simple yang bisa gue lakuin saat ini, sembari mengisi waktu luang gue biar jadi lebih positif.

Terakhir, gue cuma bisa mengucapkan selamat membaca, kalo ada masukan, kritikan, pujian, komentar atau apapun silahkan diajukan. Gue siap menerimanya dengan tangan dan hati yang lapang. Terimakasih semuanya, sungguh sekali lagi penulisan blog ini bukan untuk sombong-sombongan atau apa, tapi hanya untuk menyalurkan keinginan gue yang sangat terpendam (seperti yang gue bilang tadi). Hanya ingin berbagi dan berharap semoga bisa bener-bener berguna buat banyak orang.

Selamat Malam. Salam Bahagia. :)